Ketua Sanggar Seni Oyandi Papua: Dukung Musda DKTP, Bangun Rumah Besar Seni Budaya Papua

Ketua Sanggar Seni Oyandi Papua: Dukung Musda DKTP, Bangun Rumah Besar Seni Budaya Papua

 

Jayapura, Saireri.Com – Ketua Sanggar Seni Oyandi Papua, Nelius Awaki, SE, secara tegas meminta Pemerintah Provinsi Papua memberikan dukungan nyata kepada Dewan Kesenian Tanah Papua (DKTP) guna mempersiapkan hingga menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) DKTP. Langkah ini dinilai mutlak diperlukan agar kelembagaan kesenian tertinggi di tanah Papua kembali berfungsi dan berdaya guna.

 

Menurut Nelius, Musda bukan sekadar acara rutin, melainkan jalan utama untuk menghidupkan kembali eksistensi DKTP, sehingga lembaga ini benar-benar dapat berperan sebagai rumah besar yang menaungi, melindungi, serta mengembangkan seluruh seniman dan pelaku kebudayaan di seluruh wilayah Papua.

 

Ia menegaskan bahwa kekayaan seni dan budaya Papua sangat luar biasa besar, namun potensi itu akan terhenti tanpa wadah kelembagaan yang kokoh, aktif, dan mampu menjembatani aspirasi para pelaku seni dengan kebijakan pemerintah.

 

“Kami meminta Pemerintah Provinsi Papua jangan tinggal diam. DKTP butuh dukungan nyata untuk melaksanakan Musda, supaya lahir kepengurusan yang sah, diakui, dan dipercaya. Hanya dengan begitu rumah besar bagi seluruh seniman Papua dapat berjalan efektif,” tegas Nelius Awaki.

 

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa nama besar DKTP tidak boleh sekadar tertulis di atas kertas atau sekadar lembaga administratif yang diam. DKTP harus hadir nyata di tengah para seniman, sanggar seni, budayawan, komunitas kreatif, hingga generasi muda penerus budaya.

 

Karena itu, proses penyelenggaraan Musda harus terbuka, luas melibatkan berbagai unsur kesenian dari seluruh wilayah, sehingga kepengurusan yang terpilih kelak memiliki legitimasi penuh dan dukungan luas dari pelaku seni di lapangan.

 

DPRP dan MRP Jangan Diam Saja

 

Nelius juga meminta DPR Papua (DPRP) maupun Majelis Rakyat Papua (MRP) tidak menutup mata terhadap nasib kelembagaan kesenian daerah.

 

Baginya, seni dan budaya bukan urusan pinggiran atau sekadar hiburan semata — ia adalah jantung identitas dan jati diri Orang Asli Papua yang harus dijaga, diperkuat, dan dilindungi.

 

“DPRP dan MRP juga jangan diam. Ini bukan sekadar masalah seniman semata, ini menyangkut identitas dan kebudayaan bangsa di tanah Papua. Kami berharap lembaga perwakilan rakyat dan masyarakat adat ini ikut mendorong secara sungguh-sungguh agar DKTP kembali tegak dan berjalan efektif,” tandasnya.

 

Ia mengajak seluruh pihak — Pemerintah Provinsi Papua, DPRP, MRP, bersama para seniman dan budayawan — duduk bersama mencari jalan terbaik untuk membenahi dan menghidupkan kembali kelembagaan ini.

 

Nelius menegaskan, tuntutannya bukan untuk mempersoalkan orang atau kelompok tertentu. Tujuannya murni: pembenahan sistem kelembagaan dan pembaharuan kepemimpinan agar DKTP mampu menjawab tantangan zaman serta kebutuhan perkembangan seni dan budaya Papua saat ini maupun masa depan.

 

“Kami ingin DKTP benar-benar menjadi rumah besar. Tempat semua seniman Papua berkumpul, berdiskusi, berkarya, mendapat pembinaan, serta menyuarakan aspirasi. Kalau rumah besarnya kokoh dan kuat, pasti seniman serta kebudayaan Papua pun akan makin kuat dan bersinar,” pungkas Nelius Awaki. (AF)

 

 

Redaksi Saireri.com

Redaksi Saireri.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *