Jelang Musda Demokrat Papua Pegunungan: IMDI Ingatkan 3 Aturan Baru AD/ART, Waspada Calon Boneka

Jayapura,Saireri.Com – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Papua Pegunungan, Sekretaris Insan Muda Demokrat Indonesia (IMDI) Papua Pegunungan Bayam Keroman, ST, mengingatkan seluruh kader dan pimpinan DPC delapan kabupaten agar tidak terburu‑buru mengeluarkan rekomendasi bakal calon ketua DPD.
Ia menjelaskan perubahan mekanisme pemilihan pasca Kongres ke‑V periode 2020‑2025 yang tertuang dalam Anggaran Dasar‑Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai, berbeda dengan ketentuan Kongres I sampai IV yang menetapkan suara mayoritas Musda sebagai penentu utama. Tiga poin utama aturan baru tersebut adalah:
1. Musda hanya berwenang mengusulkan maksimal tiga nama bakal calon ketua DPD yang memenuhi syarat dukungan minimal 20 persen;
2. Penentuan calon terpilih dilakukan oleh Tim Tiga Pimpinan DPP (Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, dan Kepala BPOKK) melalui uji kelayakan fit‑and‑proper test;
3. Suara terbanyak di Musda bukan lagi penentu mutlak, melainkan hanya syarat awal untuk pengajuan ke tingkat pusat, dan Surat Keputusan penetapan tetap berada di tangan DPP.
Bayam memperingatkan manuver politik yang berusaha memunculkan calon yang hanya menjadi boneka pihak luar. “Partai Demokrat bukan tempat pegadaian, hentikan manuver ke rumah orang lain,” tegasnya.
Ia juga menilai kinerja Plt. Ketua DPD Dr. Ones Pahabol, SE., MM. Di bawah kepemimpinannya yang masih sementara, partai berhasil meraih keberhasilan besar pada pemilihan 2024‑2029, yaitu satu fraksi di DPR Papua Pegunungan, dua Bupati, satu Wakil bupati, serta menjadi bagian koalisi pemerintahan saat ini.
Sebagai Sekretaris Organisasi IMDI, Bayam meminta panitia penyelenggara Musda segera menetapkan tanggal dan lokasi pelaksanaan agar seluruh kader dapat mempersiapkan keperluan organisasi dengan matang. Ia mengajak rekan‑rekan kader mengambil pelajaran dari Musda sebelumnya yang melahirkan tokoh seperti almarhum Lukas Enembe dan Riky Ham Pagawak, serta menghindari persaingan yang berpotensi merusak persatuan partai.
“Jangan bawa Partai Demokrat ke ladang pembantaian politik. Kita harus memilih pemimpin yang benar‑benar memiliki bukti kinerja dan ketokohan yang jelas,” tutup Bayam Keroman. (Redaksi)





