Ibadah Syukur HUT ke-21 MRP dan Hari Budaya Papua Sepi Forkopimda, Ketua MRP: Lembaga Ini Lahir dari Air Mata Orang Papua

Jayapura, Saireri .Com-Perayaan Hari Ulang Tahun Majelis Rakyat Papua (MRP) ke-21 yang dirangkai dengan Hari Budaya Orang Asli Papua (OAP) digelar secara sederhana di Gedung Tifa, Kantor MRP, Kota Jayapura, Sabtu (31/10/2026).
Ibadah syukur tersebut dihadiri tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, pemuda, dan mahasiswa. Ibadah dipimpin Pdt. Hizkia Rolo.
Dalam khotbah yang diambil dari Kitab Ratapan 5:1-25, Pdt. Hizkia menegaskan agar Orang Asli Papua tidak bergantung pada manusia jika ingin dipulihkan.
“Kalau ingin dipulihkan, jangan bergantung pada manusia, serahkan seluruh persoalan kepada Tuhan maka Tuhan akan bekerja sesuai dengan rancangan-Nya,” ujarnya dalam khotbah.
Sorotan: Forkopimda Absen
Ada catatan menyolok dalam perayaan kali ini. Tidak satu pun unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Papua atau perwakilan yang menghadiri undangan tersebut.

Kondisi ini berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu dihadiri Gubernur, Ketua DPR Papua, serta jajaran pemerintah lainnya. Ketidakhadiran tersebut dinilai riskan bagi hubungan kelembagaan.
Ketua MRP: MRP Lahir dari Air Mata
Dalam sambutannya, Ketua MRP Provinsi Papua menegaskan bahwa keberadaan MRP tidak terlepas dari perjuangan dan air mata masyarakat Papua. Karena itu, MRP memikul tanggung jawab besar sebagai lembaga representasi kultural Orang Asli Papua di Tanah Papua.
Ia menjelaskan, MRP hadir untuk menjaga dan melindungi adat dan budaya Papua, memberdayakan perempuan adat, serta memelihara kerukunan hidup umat beragama.
“Lembaga ini terbentuk karena air mata orang Papua. Sehingga harapan besar ditaruh di pundak kami sebagai masyarakat representasi Orang Asli Papua yang ada di seluruh Tanah Papua,” ungkapnya.
Ia menyebut selama 21 tahun, MRP telah melewati berbagai tantangan dan dinamika. Ia percaya segala sesuatu yang terjadi di Tanah Papua merupakan bagian dari rencana Tuhan.
Ia mengakui MRP masih menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk dalam memperoleh ruang dan kesempatan yang lebih baik dari pemerintah. Namun ia optimistis hubungan kelembagaan dengan Pemerintah Provinsi Papua akan membaik.
“Kami percaya pemerintah Provinsi Papua hari ini dengan kepemimpinan Bapak Gubernur Matius D. Fakhiri, mungkin baru mempelajari kami MRP. Tetapi besok pasti akan lebih baik lagi. Kami percaya itu,” katanya.

Pesan Tiga Hubungan
Ketua MRP mengajak masyarakat untuk tetap beriman dan berpengharapan kepada Tuhan. Ia mengangkat kisah bangsa Israel yang mengalami perbudakan 430 tahun di Mesir. Seperti Tuhan mendengar jeritan bangsa Israel dan mengutus Musa, masyarakat Papua harus percaya Tuhan memiliki rencana besar bagi Papua.
“Kalau kita hari ini menangis, jangan persalahkan siapa-siapa. Mungkin hari ini kita ada kesalahan, tetapi besok harus berubah menjadi lebih baik. Segala sesuatu ada di tangan Tuhan dan segala sesuatu ada waktunya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada OAP untuk menjaga tiga hubungan penting:
1. Hubungan dengan Tuhan sebagai prioritas utama dan landasan hidup. 2. Hubungan dengan alam, menjaga alam Papua dengan baik sebagai anugerah Tuhan agar tetap memberi kehidupan bagi generasi mendatang. 3. Hubungan dengan sesama manusia, tanpa membedakan latar belakang, karena semua manusia adalah ciptaan Tuhan.
“Hubungan dengan Tuhan nomor satu. Yang kedua, hubungan dengan alam, jaga alam Papua dengan baik sehingga alam tidak murka terhadap kita. Yang ketiga, hubungan dengan manusia. Siapa pun yang ada di sekitar kita adalah manusia ciptaan Tuhan. Kita harus baik dengan semua orang, dan Tuhan pasti memberkati kita,” pesannya.
Di akhir sambutan, Ketua MRP menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Papua, Wali Kota Jayapura, serta semua pihak yang memberikan perhatian dan dukungan kepada MRP, dan berharap dukungan terus diperkuat.
“Tuhan punya rencana yang indah untuk Papua dan untuk semua orang Papua yang ada di negeri ini. Tuhan memberkati kita semua. Amin,” tutupnya.(Redaksi)





