David Harold Waromi: MoU Mamberamo Raya–PTDI Harus Lebih dari Seremonial, N219 Harus Gerakkan Ekonomi Rakyat

David Harold Waromi: MoU Mamberamo Raya–PTDI Harus Lebih dari Seremonial, N219 Harus Gerakkan Ekonomi Rakyat

BANDUNG,Saireri.Com – 26 Agustus 2026 — Anggota DPD RI perwakilan Provinsi Papua, Pdt. David Harold Waromi, SM., Th., menjadi saksi kunci penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dalam rangka penguatan konektivitas udara dan pemanfaatan pesawat N219 di wilayah tersebut. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian Simposium Nasional HUT ke-50 PTDI di Bandung, Rabu (26/8/2026).

 

MoU ditandatangani langsung oleh Bupati Mamberamo Raya bersama Direktur Utama PTDI, disaksikan Senator David Harold Waromi. Kehadirannya bukan kebetulan: sejak awal, Waromi secara konsisten mendorong agar pengembangan pesawat N219 diarahkan untuk menjawab kebutuhan konektivitas dan pembangunan ekonomi di Papua.

 

MoU Harus Menjadi Awal Kerja Nyata, Bukan Sekadar Tanda Tangan

 

Waromi menegaskan dengan tegas bahwa kesepakatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni.

 

“Penandatanganan MoU ini hanyalah langkah awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kesepakatan ini diterjemahkan menjadi implementasi nyata yang langsung dirasakan masyarakat Mamberamo Raya. Jangan sampai dokumen ini hanya tersimpan di lemari tanpa tindak lanjut yang jelas.”

 

Ia menekankan bahwa Mamberamo Raya memiliki tantangan geografis yang unik dan ekstrem: wilayah sangat luas, didominasi hutan lebat dan sungai besar, serta akses darat yang sangat terbatas. Dalam kondisi seperti ini, konektivitas udara bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar dan strategis.

 

N219 Bukan Sekadar Pesawat — Harus Ada Sistem yang Menyeluruh

 

Meskipun pesawat N219 dinilai sangat tepat untuk karakteristik wilayah Mamberamo Raya, Waromi memperingatkan: tidak cukup hanya menyediakan pesawat dan landasan terbang.

 

“Jangan kita berpikir hanya soal bandara dan pesawat. Kita harus berpikir soal sistem secara utuh. Ada rute penerbangan, operator, pembiayaan, infrastruktur, perawatan pesawat (MRO), kesiapan sumber daya manusia, penumpang, dan yang tidak kalah penting — angkutan kargo.”

 

Tanpa sistem yang terintegrasi, pesawat canggih sekalipun tidak akan memberikan dampak maksimal bagi masyarakat.

 

Dorong Mamberamo Raya Jadi Pilot Project “Papua Connected”

 

Waromi mengajukan konsep strategis agar kerja sama ini berkembang menjadi proyek percontohan (pilot project) Papua Connected, yang tidak hanya mengutamakan mobilitas penumpang, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi rakyat.

 

“Kalau kita bicara Papua Connected, jangan berhenti pada bandara, pesawat, dan penumpang. Kita harus membangun rantai ekonomi utuh: bandara — N219 — penumpang dan kargo — pasar — produksi lokal — hingga naiknya pendapatan masyarakat.”

 

Dengan konsep ini, penerbangan berfungsi ganda: melayani mobilitas warga, sekaligus menjadi sarana distribusi kebutuhan dasar dan akses pasar bagi komoditas masyarakat — mulai dari hasil pertanian, perikanan, kerajinan UMKM, hingga kebutuhan pelayanan kesehatan dan pendidikan.

 

Butuh Rencana Implementasi yang Jelas & Dukungan Bersama

 

Waromi menegaskan, setelah MoU ditandatangani, wajib disusun rencana implementasi yang terukur: pemetaan rute prioritas, pemenuhan infrastruktur, model operasional, skema pembiayaan, pengembangan SDM, dan pengembangan angkutan barang. Ia juga meminta dukungan kebijakan dari pemerintah pusat maupun daerah agar kerja sama ini memiliki fondasi kuat dan berkelanjutan.

 

“Harus ada tindak lanjut, target, jadwal, dan pembagian peran yang jelas. Jika ini berjalan, Mamberamo Raya bisa menjadi contoh nyata bagaimana industri dirgantara nasional hadir dan menyelesaikan persoalan pembangunan di Papua.”

 

Lebih jauh, ia menilai kerja sama ini membuktikan bahwa Papua bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan bagian penting dari ekosistem pengembangan industri penerbangan nasional.

 

“Harapan kita sederhana namun bermakna besar: N219 bukan hanya terbang di Papua, tetapi ikut menggerakkan Papua.” ungkap Pdt. David Harold Waromi, SM., Th.

Redaksi Saireri.com

Redaksi Saireri.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *