8.000 Sagu untuk masa depan Papua: PKB GKI Se-Tanah Papua tanam Harapan di Dusun Yohilite

SENTANI,Saireri.com – Jelang Temu Raya Persekutuan Kaum Bapak (PKB) GKI se-Tanah Papua, Dusun Yohilite, Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, disulap menjadi pusat gerakan hijau. Bukan sekadar tanam, ini adalah pernyataan sikap: Sagu adalah hidup orang Papua.
Mengusung tema adat “Fii Eai Wali – Sagu Adalah Hidup Kita”, ribuan anakan sagu disiapkan untuk ditanam di dusun sagu milik Ondofolo Heram Rasing Flebeuw.
Wakil Ketua Panitia Temu Raya, Willem Ansaka, mengungkapkan, untuk seremoni peluncuran, 200 lubang tanam telah siap. Persiapan lahan telah dilakukan pemangku adat bersama warga selama tiga minggu terakhir.

“200 lubang itu baru awal. Target kita masif, 8.000 anakan sagu akan ditanam serentak di wilayah Klasis Sentani, Waibu Moi, dan Tanah Merah,” tegas Willem, Kamis (30/10/2026).
Gerakan ini, kata Willem, adalah wujud nyata Tahun Kepedulian GKI di Tanah Papua. Sebelumnya pada Maret lalu, bersama Pemda Jayapura, PKB telah menanam 1.000 pohon sagu.
“Ini wujud nyata Tahun Kepedulian GKI. Kepedulian kita tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam ciptaan Tuhan,” ujarnya.
Di tengah ancaman krisis pangan dan alih fungsi lahan, sagu dinilai sebagai jawaban ketahanan pangan yang jujur, lestari, dan berakar pada kearifan lokal Papua.
Pesan paling tajam disampaikan Koordinator Publikasi Temu Raya, Anthonius M. Ayorbaba. Menurutnya, sagu bukan sekadar komoditas, melainkan identitas.
“Orang Papua lahir, tumbuh, dan bertahan hidup berkat sagu. Hutan sagu ini harus kita jaga dan lestarikan. Jangan sampai digantikan dengan produk lain. Sagu ini identitas kita,” tegas Ayorbaba.

Ketua Klasis Port Numbay, Derek Imbiri, menambahkan gerakan ini menjadi penanda kesiapan Sentani menyambut ribuan peserta Temu Raya yang akan digelar 14, 15, dan 16 November 2026 mendatang.
Turut hadir mendukung gerakan ini tokoh adat Melky Puraro dan para pemangku adat Asei Kecil.
Dengan demikian, Temu Raya PKB tahun ini tidak hanya menjadi pertemuan rohani, tetapi juga gerakan ekologis: menanam sagu, menjaga tanah air, dan mewariskan kehidupan bagi generasi Papua mendatang. (Redaksi)





